DESAIN DAN TATA RUANG RPH

       

        Desain dan tata ruang akan membicarakan permasalahan kompleks Rumah Potong Hewan  yang meliputi bangunan dan perlengkapannya beserta denah dari berbagai tipe RPH. Pembahasan ini banyak diambil dari pendapat Lestari (1993b).

 

Bangunan Utama dan Peralatan

 

        Lestari (1993b) menerangkan sebagai berikut, secara umum bangunan dan peralatan Rumah Potong Hewan meliputi fasilitas sebagai berikut:

a.       Tempat penyembelihan hewan yang merupakan suatu bangunan berguna untuk tempat hewan disembelih. Ruang ini dilengkapi dengan alat penjepit sapi, pemingsan sapi, pisau sembelih dan penampungan saluran darah.

b.      Tempat proses penyelesaian penyembelihan merupakan bangunan yang digunakan untuk pengulitan hingga proses pembelahan karkas untuk dipasarkan.  Ruangan ini dilengkapi dengan beberapa peralatan hoist dan kait penggerek/pembentang karkas sapi, meja/rak pengulitan, gergaji atau pisau pengulitan dan pengeluaran jeroan, gerobak transportasi, gergaji pembelah karkas dan tangga untuk pembelah karkas.

c.       Tempat pemeriksaan kesehatan daging merupakan suatu ruang fasilitas pemeriksaan kesehatan baik ante mortem dan post mortem.  Ruang ini diusahakan berdampingan dengan rel kepala dan jeroan sehingga mudah untuk mencocokan antara karkas dengan jeroan atau kepalanya. Rel dilengkapi dengan rel rijek yang berfungsi untuk tempat memberhentikan karkas.

d.       Penimbangan merupakan ruang yang dilengkapi dengan alat penimbangan secara langsung yang menyatu dengan rel  dan secara otomatis akan mencatat berat karkas tersebut.

e.       Ruangan kulit merupakan ruangan penampungan kulit dan kaki dari hewan yang sudah disembelih yang diperlengkapi dengan sarana pencucian dan penggaraman.

f.        Ruang jeroan/isi rumen merupakan ruangan untuk proses membersihan jeroan yang diperlengkapi dengan sarana pengeluaran kotoran, meja dan tempat perebusan.

g.       Ruang kepala, hati, jantung dan paru-paru merupakan ruangan yang berguna untuk pengeluaran otak dan pencucian yang diperlengkapi dengan alat penggantung.

h.       Ruang pelayuan adalah ruang untuk melayukan karkas. Ruang ini tergantung pada tipe dari RPH. Untuk tipe D hanya diperlengkapi dengan sistem rel saja, tipe C  ditambah dengan ekshauser, untuk tipe A dan B ditambah dengan perlengkapan pendingin/chiller yang bersuhu 18oC.

i.         Ruang deboning merupakan ruangan untuk memotong bagian-bagian karkas sampai dengan bagian-bagian daging untuk dikemas yang dilengkapi dengan peralatan  meja pemotong daging, gergaji daging, vacum packaging, pisau deboning, tempat pencucian alat dan daging dan AC dengan temperatur 10oC untuk tipe A dan temperatur 18oC untuk tipe B.

j.        Ruang cold storage dan blast freezer ruang ini merupakan ruang pembekuan  secara cepat daging maupun karkas dan ruang penyimpanan sebelum pemasaran. Kedua ruang ini dikhususkan untuk RPH tipe A dan B.

k.      Ruang pengepakan merupakan ruang untuk mengepak daging maupun bagian-bagian karkas. Perlengkapan yang ada timbangan duduk dan timbangan digital pada sistem rel dan karton pembungkus untuk membungkus daging sebelum dipasarkan.

 

Bangunan Penunjang dan Perlengkapan lain

 

        Untuk memperlancar kerja RPH  maka perlu diperlengkapi bangunan penunjang dan sistem alat yang terintegrasi.  Beberapa peralatan dan bangunan penunjang ini akan diuraikan sebagai berikut sesuai dengan pendapat Lestari (1993b):

1.      Perlengkapan RPH.

a.       Sistem rel. Rel sistem ini diatur sesuai dengan tahap pekerjaannya dan saling berhubungan. Rel sistem diawali dari daerah kotor yaitu diawali pada daerah penyembelihan, pengulitan, dan kedaerah pemeriksaan yang dilengkapi dengan rel rijek. Pada daerah pemeriksaan rel bercabang jika terjadi pemeriksaan lebih lanjut akan ditunda dan jika lolos pemeriksaan akan dilanjutkan ke rel paralel untuk penimbangan dan pemotongan karkas yang letaknya lebih tinggi. Rel kemudian keluar dari daerah kotor dan masuk ke daerah bersih, yaitu ruangan pelayuan. Pada daerah ini rel mempunyai banyak simpangan dan lajur yang disesuaikan untuk kapasitas pemotongan. Untuk RPH tipe C dan D rel hanya sampai disini, tetapi untuk tipe A dan B sistem rel dilanjutkan ke ruang deboning dan cold storage. Pada sistem rel terdapat beberapa alat:

(i).    Hoist: alat penggerek sapi atau karkas.

(ii).  Timbangan: secara otomatis dapat menunjukkan berat karkas atau daging setelah diproses.

(iii). Gantungan sapi: alat penggantung sapi yang akan ditaruh di meja pengulitan dan peregang karkas yang akan dibagi dua.

(iv). Gantungan karkas: kait penggantung karkas untuk diproses selanjutnya setelah dibagi menjadi dua belahan.

(v). Gantungan jeroan: kait penggantung kepala, jantung dan paru-paru 

       untuk diperiksa dan akan berlanjut ke ruang kepala.

 

                   b. Perlengkapan lain yang terdapat pada ruang kotor adalah:

(i). Alat penjepit hewan: terdapat di ruang penyembelihan sebelum            hewan dipingsankan.

(ii).  Alat pemingsan: alat pemingsan hewan yang dirancang sedemikian rupa dengan voltase dan waktu tertentu  

(iii). Meja pengulitan: meja yang dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan pengulitan  dan menghindarkan daging menyentuh lantai.

(iv). Gergaji: gergaji yang digunakan untuk membelah karkas.

(v). Tangga: tangga untuk operator pembelah karkas untuk mempermudah pembelahan karkas.

(vi). Gerobak jerohan: gerobak dengan desain khusus untuk mengangkut jerohan ke ruang penanganan selanjutnya.

 

2.      Bangunan Penunjang.

a.       Halaman serta pagar. Tersedia halaman untuk kendaraan keluar masuk untuk bongkar muat sapi, tempat parkir dan daging yang terpisah. Halaman dipisahkan menurut daerahnya (kotor dan bersih). Pagar sebaiknya dari tembok agar proses penyembelihan tidak terlihat dan keamanan terjaga.

b.      Kandang istirahat ternak. Kandang untuk menampung ternak dan istirahat harus memenuhi persyaratan: lokasi aharus jauh dari daearah bersih, dirancang agar tidak terdapat lekukan tajam, lantai licin dan penonjolan mur atau baut yang bisa melukai ternak, tata letak fasilitas harus menganut pengoperasian jarlur lurus sehingga menghindari putaran balik dan pwersilangan antara titik bongkar dan pemotongan ternak, pagar dan pintu terbuat dari baja atau bahan lain yang diijinkan dan kuat, kapasitas penempungan disesuaikan dengan kapasitas penyembelihan dan tiap jenis ternak dipisahkan, luas disesuakan dengan minimal ketentuan perlakuan layak pada hewan, terpasang atap yang dapat melindungai 24% ternak besar atau seluruh ternak kecil yang akan dipotong pada hari yang sama dan jalur penggiring ke tempat persiapan dan pemingsanan harus beratap.

c.       Laboratorium. Laboratorium yang bisa digunakan untuk pemeriksaan post mortem secara mendalam beserta peralatan dan fasilitasnya.

d.      Kandang sakit  atau isolasi hewan. Kandang sakit dibuat sedemikian rupa sehingga mempunyai pagar pembatas/galangan kecuali untuk arus buangan, beratap dan sesuai dengan ukuran jenis ternak dan diberi tanda peringatan keberadaannya.  Juga dilengkapi dengan alat penjepit dan pengekang yang mempermudah penanganan pemeriksaan.

e.       Tempat pemotongan darurat. Dibangun berdekatan dengan tempat penurunan sapi dan kandang penampungan. Tersedia fasilitas tempat penahanan daging yang akan diperiksa inspektor.

f.        Kantor admistrasi. Dibangun sesuai dengan kapasitas RPH dan dilengkapi dengan peralatan administrasi yang menunjang administrasi pemotongan.

g.       Kamar mandi dan WC. Dibangun di masing-masing daerah kotor dan bersih dengan saluran pembuangan limbah tersendiri.

h.       Gudang alat-alat. Tersedia gudang untuk penyimpanan material pemrosesan dan pembungkusan maupun bahan kimiawi. Gudang bahan pengemas harus kedap debu, anti hama dan tidak berhubungan dengan ruangan bahan kimiawi dan bila perlu dilengkapi dengan rak anti karat dengan ketinggian minimal 30 cm dari bawah. Gudang bahan kimiawi yang berdekatan dengan daerah pemotongan atau daerah bersih harus dilengkapi dengan pintu tertutup tersendiri, dilengkapi ventilasi dan mempunyai saluran pembuangan.

i.         Ruang akomodasi karyawan RPH. Ruang harus diatur agar karyawan daerah bersih tidak melewati daerah kotor dan sebaliknya, tersedia jalan setapak yang diperkeras dari tempat kerja ke ruang ini, dinding, pintu dan langit-langit dibuat dari bahan yang mudah dibersihkan dan berwarna cerah, kemiringan kisi dinding minimal 45o ke arah bawah, semua lubang keluar harus kedap serangga, hama dan pengerat, ventilasi minimal pergantian udara 4 kali setiap jam, tempat udara masuk harus terhindar dari kontaminasi dan alat penyedot dengan menggunakan saringan, penerangan cukup, tersedia ruang makan dengan fasilitasnya (meja makan, kursi makan, alat pemanas air, tempat sampah), kapasitas ruang sesuai dengan jumlah pegawai, antar bagian ruang makan dan ganti bagian harus terpasng pintu dan tirai dan tersedian fasilitas kamar mandi dan WC.

j.        Ruang akomodasi staf pemeriksa. Lokasi dan akses menuju ruang akomodasi staf sesuai dengan persyaratan akomodasi untuk karyawan RPH, terpisah dari staf karyawan wanita kecuali pada ruang makan, konstruksi sesuai dengan persyaratan yang berlaku, luas kantor minimal 3x3 m2 dan dilengkapi dengan telepon, meja, kursi 2 buah, lemari metal terkunci untuk peralatan, lemari metal terkunci untuk arsip, lemari tiap anggota staf, penutup lantai/karpet dan fasilitas pencuci tangan.

k.      Lokker. Jumlah sesuai dengan   keperluan, diperlengkapi dengan kunci dan minimal ukuran 40x40x40 m3 per ruang.

l.         Kantin. Tempat harus jauh dari daerah kotor dan menyediakan makanan dan minuman yang sehat.

m.     Rumah jaga. Dibangun disamping pintu masuk dan keluar lokasi RPH  dengan jalur terpisah antara kendaraan dan orang untuk mempermudah pemeriksaan.

n.       Krematorium. Pembakaran dengan cara pembakaran kering dan letak minimal 27 m dari bagian ruang pemotongan, pengolahan dan penyimpanan alat-alat pemotongan,  kegiatan penggilingan, pengarungan dan pemuatan yang berkaitan dengan pembakaran harus terpisah dari daerah bersih,  konstruksi sesuai ketentuan dan kapasitas pembakaran mencukupi sehingga menjamin bahan-bahan yang akan dibakar tidak tertunda, cara efektif pengendalian bahan hasil sistem pembakaran harus sesuai ketentuan, terdapat pemisahan yang jelas pada tangki penampung lemak yang bisa dikonsumsi dan tidak dapat dikonsumsi, terjamin fasilitas dan peralatan yang terpisah untuk bagian yang sudah dan belum diproses,  dan untuk ruang penanganan  ternak mati pada bagian pembakaran lantai diperkeras, tersedia kran air panas dan dingin, tersedia alat untuk pemindahan material dan tersedia fasilitas pencuci dan pengering tangan.

o.      Tempat pengolahan limbah. Letaknya disesuaikan dengan desain RPH yang berhubungan langsung dengan saluran pembuangan RPH dan dibangun pada daerah kotor yang tidak mencemari lingkungan dengan daya tampung disesuaikan dengan kapasitas pemotongan.

 

        Tata Ruang RPH

 

Produk peternakan asal hewan mempunyai sifat mudah rusak  dan dapat bertindak sebagai sumber penularan penyakit dari hewan ke manusia. Untuk itu dalam merancang tata ruang RPH perlu diperhatikan untuk menghasilkan daging yang sehat  dan tidak membahayakan manusia bila dikonsumsi sehingga harus memenuhi persyaratan kesehatan veteriner (Koswara, 1988).

 Tata ruang RPH yang baik dan berkualitas  biasanya dirancang berdasarkan desain yang baik dan berada di lokasi yang tepat untuk memenuhi keperluan jangka pendek maupun jangka panjang  dan menjamin fungsinya secara normal. Secara garis besar dari berbagai syarat bangunan dan perlengkapan yang diperlukan, maka RPH dapat diterjemahkan dalam tata ruang sesuai dengan tipenya seperti pada gambar 2 sampai 5 (Lestari, 1993b).

Perancangan bangun RPH berkualitas sebaiknya sesuai dengan standar yang telah ditentukan dan sebaiknya sesuai dengan Instalasi Standar Internasional dan menjamin produk sehat dan halal.  RPH dengan standar internasional biasanya dilengkapi dengan peralatan moderen dan canggih, rapi bersih dan sistematis, menunjang perkembangan ruangan dan modular sistem. Produk sehat dan halal  dapat dijamin dengan RPH yang memiliki sarana untuk pemeriksaan kesehatan hewan potong, memiliki sarana menjaga kebersihan, dan mematuhi kode etik dan tata cara pemotongan hewan secara tepat. Selain itu juga  harus bersahabat dengan alam, yaitu lokasi sebaiknya di luar kota dan jauh dari pemukiman dan memiliki saluran pembuangan dan pengolahan limbah yang sesuai dengan AMDAL (Lestari, 1993b).

KEMBALI KE SAMPUL